Wednesday, 19 July 2017

PESONA BROMO SELALU MEMIKAT WISATAWAN


Mengunjungi Gunung Bromo yang berada di ketinggian 2.392 meter di atas permukaan laut memang sebuah perjuangan. Melewati perkampungan lalu lereng dengan tepi jalan yang curam serta pepohonan rindang menjadi daya tarik tersendiri. Jalanan berliku menanjak juga menjadi tantangan, apalagi kondisi jalanan yang sempit sehingga ketika dua mobil pribadi berpapasan harus pelan dan hati-hati. 


Gunung bromo merupakan salah satu gunung berapi yang masih aktif yang terletak di empat wilayah, yakni Kabupaten Probolinggo, Pasuruan, Lumajang dan Kabupaten Malang. Dengan statusnya sebagai gunung berapi yang masih aktif, Bromo menjadi salah satu obyek wisata yang paling terkenal di daerah Jawa Timur. Tak heran wisatawan baik lokal mapun manca negara terus berdatangan, entah ketika musim liburan atau kapan saja, khususnya di akhir pekan. 


Bagi suku Tengger atau penduduk setempat, Bromo dipercaya sebagai gunung suci, yaitu Brahma. Setiap tahun masyarakat Tengger mengadakan upacara Yadnya Kasada atau dikenal Kasodo. Upacara ini bertempat di sebuah pura yang berada di bawah kaki Gunung Bromo utara dan dilanjutkan ke puncak gunung Bromo. Upacara diadakan pada tengah malam hingga dini hari setiap bulan purnama sekitar tanggal 14 atau 15 di bulan Kasodo (kesepuluh) menurut penanggalan Jawa.




Menarik Mancanegara
Setiap berkunjung ke Bromo beberapa kali selalu kami bertemu turis. Menandakan bahwa magnet untuk selalu berkunjung ke gunung Bromo bagi para wisatawan mancanegara sudah lumrah. Berawal dari cerita dan lewat akses internet, turis datang untuk melihat langsung suasana dan keindahan Bromo dari berbagai sisi.

Dari sudut Seruni misalnya kita bisa menikmati pemandangan luas Gunung Bromo dan Gunung Batok yang letaknya bersebelahan. Lautan pasir yang sangat luas tentu sangat nyaman untuk menunggang kuda maupun sewa Jeep. Dua transportasi tersebut sebaiknya Anda coba ketika berkunjung ke kawasan Bromo. Bahkan untuk ke Penanjakan kita biasanya menggunakan jasa Jeep untuk mencapai dataran yang lebih tinggi guna mendapatkan view yang lebih menarik, khususnya bagi fotografer untuk mengabadikan momen sun rise.


Bagi fotografer berbagai sudut di Bromo selalu menarik untuk diabadikan, tinggal komposisi yang diinginkan seperti apa menjadi tantangan terhadap kejelian sang fotografer. Hampir setiap fotografer baik lokal maupun mancanegara hasil memotret Bromo selalu menarik dan eksotik. Itulah diantara yang membuat penasaran para pemburu landscape untuk mendapatkan momentum yang pas sesuai keinginannya. 




Berkali-kali Tidak Bosan

Untuk ke beberapa kalinya kami mengunjungi Gunung Bromo, namun tidak bosan. Selalu terpesona dengan lautan pasir, sejuk atau dinginnya udara serta ramahnya suku Tengger yang kami jumpai. Saat itu kami ngobrol dengan penjaja kupluk, sarung tangan dan syal, ternyata tidak pernah sepi pengunjung. Artinya selalu ada saja, meski diakui weekend biasanya selalu lebih ramai.

Masyarakat suku Tengger memiliki lahan pertanian yang subur berkat abu vulkanik yang tersebut sebagai salah satu yang membuatnya menjadi daerah subur dan produktif. Jadi yang menarik bagi kami hamparan sawah yang dipenuhi dengan sayur-mayur sehingga membuat masyarakat di sana hampir selalu membawa panen yang berlimpah. Kami pun beli sedikit hasil panen yang dijajakan dipinggir jalan untuk merasakan asli produk pegunungan yang masih segar. Hasilnya memang mantabs. 




Rute Menuju Bromo

Karena kami ada saudara di daerah Probolinggo, maka kami melewati pasar Patalan. Kemarin kami sengaja naik motor milik saudara bersama istri, alhamdulillah perjalanan lancar, namun memang karena pakai matic sehingga ditanjakan terjal seringkali harus berhenti karena tidak kuat untuk dinaiki berdua. 

Tapi kalau Anda dari Pasuruan bisa melewati pertigaan Tongas yang memiliki jalur langsung menuju jalur Bromo tanpa harus melewati terminal Probolinggo. Biasanya bus pribadi atau bus pariwisata menggunakan jalur Tongas menuju Gunung Bromo. Sedangkan kalau Anda dari Lumajang, dapat melewati Pasar Patalan untuk menuju Bromo. 




Penginapan dan Hotel

Bagi Anda yang ingin ke Gunung Bromo bisa bersama rombongan atau keluarga. Di atas menuju Puncak Gunung Bromo banyak penginapan dan juga hotel berkelas, tergangtung pilihan Anda. Jangan khawatir kalau soal menginap di wisata Bromo. Karena banyak wisatawan lokal maupun mancanegara yang mengunjungi Bromo, tak terkecuali di hari-hari biasa. 

Biasakan sebelum melakukan traveling ke Bromo, cari tau cuaca di sana untuk kelembaban berapa derajat sehingga peralatan pun siap begitu sampai di lokasi. Juga tanya ke orang yang pernah ke sana, agar menjadi bahan masukan atau bahan pertimbangan apa saja sebelum berangkat. Tujuannya biar kesiapan traveling ok, juga peralatan yang dibutuhkan juga harus mendukung sehingga perjalanan wisata Anda menyenangkan dan tidak menyesal setelah sampai lokasi karena lupa bawa seauatu yang berharga, khususnya untuk peralatan kamera dan segala macam pendukung ya.












  

Tuesday, 11 April 2017

MENJELAJAH BANGUNAN MEGAH KOMPLEK PESANTREN BIHAARU BAHRI 'ASALI FADHAAILIR RAHMAH (Part 1)

Mengunjungi Masjid Tiban yang megah dan menawan bak arsitektur Timur Tengah tentu memiliki arti tersendiri bagi setiap pengunjung. Tak terkecuali kami saat menyaksikan langsung pesona keindahan bangunan yang berada di Jalan KH. Wahid Hasyim Gang Anggur No.10 RT 26 RW 07 Desa Sananrejo, Kecamatan Turen Kabupaten Malang Jawa Timur. 

Sebenarnya nama Mesjid Tiban hanya julukan atau sebutan warga sekitar yang tidak paham asal mula sejarah berdirinya pesantren tersebut. Kata Tiban berarti "jatuh" seolah tiba-tiba ada bangunan dengan menara menjulang tinggi dari langit. Itulah cerita yang diyakini warga sekitar untuk menggambarkan 
komplek Pondok Pesantren (Ponpes) Salafiyah Bihaaru Bahri ‘Asali Fadlaailir Rahmah. 

Padahal kalau kita telusuri sejarahnya, diawali pada tahun 1963 oleh Romo Kyai Haji Ahmad Bahru Mafdlaluddin Shaleh Al-Mahbub Rahmat Alam, atau yang akrab disapa Romo Kyai Ahmad. Buktinya ijin kecamatan dan kepolisian setempat juga dilakukan pada tahun tersebut, meski kita akui ijin resmi pendirian pondok pesantren dilakukan pada tahun 2002. 



Bihaaru Bahri 'Asali Fadlaailir Rahmah 
Nama sebenarnya pesantren ini adalah Bihaaru Bahri ‘Asali Fadlaailir Rahmah ( atau biasa disebut dengan Bi Ba’a Fadlrah). Artinya yaitu, Segarane, Segara, Madune, Fadhole Rohmat atau makna umum luasnya lautan madu. Oleh karena itu, kami akhirnya tau bahwa Masjid Tiban hanya sebutan untuk menggambarkan kemegahan bangunan yang tanpa menggunakan alat-alat berat serta dikerjakan manual oleh para santrinya.

Santri-santrinya pun bukan santri biasa, rata-rata santrinya tua-tua atau sudah punya keluarga. Ada juga sebagian santri yang masih belum berkeluarga. Khusus yang berkeluarga rata-rata mereka difasilitasi kios yang berada di lantai 8 untuk kegiatan keberlangsungan hidup di pesantren. Walaupun sebenarnya juga di pondok pesantren tersedia untuk makan sehari-hari. 

Hebatnya lagi, santri-santri di sana sebenarnya tidak gratis dan juga tidak ada ketentuan pembayaran minimal dan maksimal, apalagi uang pangkal dan sebagainya. Mereka sesuai kemampaun ekonominya dan kalau memang tidak punya tetap bisa menjadi santri. Jadi itulah diantara keunikan menjadi santrai salafiyah di Sananrejo, Turen Malang ini.   




Tujuan Mendirikan Bangunan

Sebelum menelusuri lebih jauh tentang bangunan, kita perlu tau tentang maksud tujuan didirikannya pondok pesantren di Turen Malang ini. Sebagaimana penuturan Gus Kisyanto bahwa pembangunan bertujuan untuk pembenahan akhlak secara menyeluruh, sebagai sarana pembersihan hati dan menciptakan perdamaian dunia. 

“Kalau hatinya sudah bersih dan damai, maka orang akan lebih cinta kepada Allah SWT, yang ditandai dengan perilaku kasih sayang terhadap sesama makhluk. Dan hal itu terbukti. Ketika ditanyakan kepada kebanyakan pengunjung yang datang, jawaban yang mereka berikan adalah, hati mereka merasa damai, bahagia, tenang, tenteram dan bisa merasakan hilangnya penyakit-penyakit hati. Bahkan, banyak yang mengaku, bahwa mereka belum pernah merasakan perasaan yang seperti ini sebelumnya. Selain itu, tidak sedikit orang yang mengaku, setelah datang ke pondok, penyakit jasmaninya menjadi sembuh," demikian cerita Gus Kis.

Untuk mencapai hal tersebut, dalam konsep pembangunan di pondok ini, Romo Kyai selalu memperhatikan semua unsur kehidupan yang ada di dalam pondok. Soal ornamen yang bernilai seni tinggi, warna-warna yang sejuk dan penuh dengan keseimbangan dengan kehidupan manusia. Tak heran setiap pengunjung merasa senang, damai dan betah untuk berlama-lama di pondok salaf ini. Bagitu juga dengan kami bersama rombongan, berkeliling hingga lantai 10 pun tidak merasa lelah dan suasana hati menjadi tenang damai. 





Konsep Bangunan Pesantren
Untuk konsep pembangunan pondok ini dilakukan atas dasar fungsi, yang termasuk di dalamnya adalah: kuat, cepat, tepat, hemat dan indah. Yaitu, kuat dalam konstruksi, cepat dalam arti segera dilaksanakan, dan tepat waktu dalam penyelesaian, tepat dalam ukuran dan takaran, tepat dalam teknis dan sasaran, efektif dan efisien dalam pemakaian bahan serta bersih, rapi dan indah. 

Jika dibangun atas dasar fungsi tersebut, maka otomatis variable yang lain sudah termasuk di dalamnya. Untuk fungsi itulah, makanya bangunan di pondok ini, tidak ada yang sama antara satu tempat dengan tempat lainnya.


“Karena masing-masing fungsi memang tidaklah sama. Jadi, konsep pembangunan pondok ini, sesungguhnya berjalan atas kehendak Allah. Sedang yang menjadi arsiteknya adalah Romo Kyai. Jadi, Romo Kyai tidak pernah meniru atau mencontoh konsep pembangunan di tempat lain untuk dipakai di sini. Karena memang fungsinya tidak sama,” lanju Gus Kis.


Bahkan pihaknya tidak tahu bagaimana akhir dari proses pembangunan pondok ini. Contoh, menurut Gus Kis, di sebelah musholla itu ada kubah. Padahal, ketika tahun 1992 lalu, bangunan itu merupakan bangunan paling besar dan megah. Namun, sekarang, kubah tersebut malah jadi tiang saja. “Romo Kyai sendiri pernah bilang, jika memang ada dana trilyunan, maka semua ruangan yang sekarang ini, hanya akan menjadi tiang saja nantinya,” pungkasnya.  




Mengutamakan Fungsi
Yang paling penting, beliau Romo Kiai berprinsip mengutamakan fungsi, kemudian keindahannya. Kalau fungsi pasti bagus atau indah, sedangkan bagus dan indah, belum tentu fungsi. 

Satu hal juga yang menjadi catatan dari pengasuh, pemiliki sekaligus arsitek Pondok Pesantren tidak pernah risau dengan penilaian negatif dari masyarakat yang berkembang selama ini, pihak pondok tetap berusaha meluruskannya. 

“Bagi beliau sendiri, adanya isu negatif itu justru dijadikan sebagai bahan koreksi ke dalam (intropeksi diri). Apakah pondok kurang bersih, atau karena lainnya? Beliau tidak pernah menyalahkan sikap orang lain kepada pondok,” cerita panjang lebar Gus Kis. Yang jelas, prinsipnya, Romo Kyai tidak pernah menyalahkan siapapun. Semua dikembalikan kepada diri sendiri.








Friday, 7 April 2017

MENIKMATI WISATA AIR SUMBER MARON MALANG JAWA TIMUR


Anda suka menikmati indahnya alam dan berwisata air? Jika iya tak ada salahnya mengunjungi tempat wisata air yang bersih nan sejuk Sumber Maron yang berlokasi di Desa Karangsuko, Kec Pagelaran Malang Jawa Timur, yang juga tak kalah menarik dengan tempat-tempat wisata di daerah lain.

Kebetulan kami silaturrahiem ke daerah Karangsuko Pagelaran Malang, tanpa sengaja rumah teman yang kami kunjungi ternyata dekat wisata Sumber Maron. Rasa penasaran semakin kuat untuk berkunjung ke wisata air yang masih asri dengan pemandangan sejuk karena kami melewati persawahan juga.

Sesampainya di lokasi, kami melihat banyak tempat parkir yang disediakan warga setempat dengan memanfaatkan ruang atau lahan yang ada, khususnya untuk kendaraan roda dua. Kami pun mulai menuruni jalanan yang sudah menggunakan paving menuju ke tempat pembelian karcis sebelum menuju pintu masuk.


Karcis Masuk Sumber Maron
Ternyata wisata air Sumber Maron murah meriah harga tiketnya hanya Rp 3000 untuk masuk ke area wisata. Kebetulan kami bersama dengan warga sekitar yang dikenal sama petugas, mulai dari penjaga parkir, penjual makanan dan aksesoris hingga penjaga pintu masuk ke lokasi wisata sehingga kami dipersilahkan masuk tanpa karcis.

Walaupun biaya masuk murah meriah, namun wisata air Sumber Maron Malang ini tidak kalah menarik dengan tempat wisata lain. Apalagi kami sangat senang karena tempat wisata yang dikelolah oleh aparatur Desa Karangsuko ini tetap menjaga keaslian alam atau tidak memodifikasi dengan wahana buatan. Jadi masih asri dengan pemandangan alamnya sehingga bagi warga perkotaan menjadi tempat untuk refreshing sambil sesekali menikmati makanan ringan Sempol yang banyak kita jumpai.


Asyik Menikmati Aliran Sungai dengan Ban
Selain kita bisa asyik berendam di derasnya air dengan hamparan batu yang menjadi tempat pavorit, kita juga dapat menikmati aliran sungai sepanjang 500 meter dengan menyewa ban yang hanya Rp 5000. Jadi tidak perlu mengeluarkan uang banyak jika berkunjung ke Sumber Maron Malang.

Dengan sungai yang bersih dan tidak dalam, sangat pas kalau kita bawa keluarga untuk mengenalkan wisata air bagi anak-anak di Sumber Maron. Karena memang lokasi ini sangat pas untuk edukasi alam dan lingkungan bagi anak-anak kita sehingga harapannya bisa menghargai kebersihan lingkungan dan mencintai alam. Jadi sudah saatnya kita tanamkan bagi generasi muda atau sejak dini untuk peduli dengan konservasi alam.

Jadi bagi Anda yang berkunjung ke Malang Jawa Timur yang suka wisata, Sumber Maron bisa dijadikan alternatif untuk disinggahi. Selain murah, juga areanya masih asri nan sejuk. Cocok buat refreshing untuk menghilangkan kepenatan pikiran.





Wednesday, 23 October 2013

PESONA ALAM SITU GUNUNG SUKABUMI


Bagi Anda yang ingin berlibur dengan suasana sejuk dan hemat, Situ Gunung bisa menjadi salah satu pilihannya. Kawasan ini terletak di kaki Gunung Pangrango, Kecamatan Kadu Dampit, Sukabumi Jawa Barat. Berada di ketinggian sekitar 970 diatas permukaan laut (dpl).

Sesuai namanya, Situ Gunung ini menawarkan wisata alam berupa Danau yang eksotis. Sejuk nan asri ketika berada di kawasan Situ dengan pemandangan yang luas. Jika cuaca bagus, suasananya semakin menarik untuk diabadikan dengan kamera apa saja.

Suana kawasan Danau

Menurut legenda, Situ Gunung ini merupakan danau buatan bangsawan Mataram Rangga Jagad Syahadana, yang akhirnya dikenal dengan Mbah Jalun. Dia seorang buronan Belanda yang lari dari kerajaan Mataram karena diburu penjajah pada tahun 1800-an.

Jalan dari Parkiran mobil menuju Danau
Lebih lanjut, sebelum ke Sukabumi, Mbak Jalun memperistri perempuan asal Kuningan Jawa Barat. Untuk jalur pengembaraannya dari kejaran kolinial melewati Cianjur dengan membuka jalur hutan di pegunungan. Salah satunya adalah jalan lewat Gunung Gede dan Pangrango. Dan akhirnya berhenti di lembah yang dialiri sungai yang jernih dan menetap dan membuat danau sebagai bentuk syukur atas putranya Rangga Jaka Lulunta.

Jalur Transportasi
Karena keindahan alamnya yang asri dan terlindungi, Situ Gunung sering menjadi destinasi para fotografer untuk mengabadikan landscape yang menawan, terutama ketika pancaran cahaya pagi menembus sela-sela pepohonan.

Tim Travelenia dari Jakarta menggunakan mobil melewati Tol Ciawi, Pasar Cicurug, Pasar Cibadak dan Pasar Cisaat. Pas sebelum Pasar Cisaat atau Alun-Alun Cisaat, kita masuk ke arah kiri pas di Polsek Cisaat. Jarak tempuhnya kurang lebih 30 menit menuju Wisata Alam Situ Gunung.

Bagi yang menggunakan transportasi umum, banyak pilihannya. Ikut saja bus jurusan Sukabumi dan turun di alun-alun atau Polsek Cisaat. Setelah itu, ada angkot namun tidak sampai ke pintu gerbang. Jaraknya sekitar 9 Km dari Cisaat. Tapi sebenarnya bisa diajak hingga pintu gerbang tentu dengan biaya tambahan dengan sang supir.

Kawasan Situ Gunung
Berwisata ke Situ Gunung sangat murah. Biaya masuk per orang hanya Rp 3000, parkir untuk mobil sekitar Rp 10.000. Begitu kita masuk pintu gerbang, ambil kiri mengikuti jalanan bebatuan kecil dan melewati tempat outbound hingga tempat parkir. Sementara khusus pengguna Wisma Danau yang berada pas samping Danau boleh masuk menggunakan mobil. Hanya saja untuk bus tidak memungkinkan.

Dari tempat parkir menuju Danau berjarak kurang lebih 500 meter dengan jalan menurun. Bagi yang malas jalan kaki, bisa menggunakan jasa ojek dengan biaya Rp 10.000.

Kawasan Masuk Danau
Begitu sampai di kawasan Danau, mata kita akan terlihat lebih segar karena rerumputannya yang hijau dan menyejukkan pandangan. Tempatnya asri dan nyaman untuk bersantai bersama keluarga sembari menghirup udara segar. Sebagai pengobat kepenatan aktivitas yang pada selama di Jakarta.

Nyaman untuk wisata keluarga juga
Ramainya pengunjung dari jam 08.00 pagi sampai 16.00 sore. Bahkan untuk weekday sangat sepi dan biasanya hanya orang-orang sekitar yang mancing di danau dari siang hingga besok pagi. Mereka yang membuang bibit ikan dan mereka pula yang memancingnya.

Bagi Fotografer
Biasanya banyak komunitas fotografi hunting ke Situ Gunung ini. Sebab untuk pemandangan alamnya cukup memesona, terutama di pagi hari ketika pancaran cahaya matahari menembus di sela-sela pemohonan dan kabut terlihat sehingga memberikan suasana dalam foto yang menarik.

Parahu yang biasa disewa fotografer
Memang bagi fotografer yang ingin mengabadikan ray of light sebaiknya menginap. Sebab dari jam 04.00-05.00 sebaiknya sudah di pinggir Danau. Sebab jam 05.00 pagi kami sampai di sana, suasana tampak terang jika cuaca cerah. Bila membawa model, bisa memanfaatkan perahu sewaan sebagai bagian penting di frame kita.

Pinggir Danau
Selain Danau, obyek wisata lainnya adalah Curug Sawer yang merupakan air terjun terbesar di Taman Nasional Pangrango dengan ketinggian sekitar kurang lebih 25 meter. Jarak tempuh sekitar 2 Km dengan berjalan kaki karena hanya memiliki akses setapak menuju air terjunnya. Jalannya juga turun naik sehingga cukup untuk membakar kalori kita.

Curug Sawer
Namun bagi yang ingin melewati jalur lain, bisa menggunakan jasa ojeg motor melalui jalan Cinumpang. Biasanya kita harus membayar Rp 25.000,-. Sebab, area Curug Sawer berbeda dengan Danau, jaraknya sekitar 200 meter. Biaya masuk areal ini Rp 3000,-.

Fasilitas dan Penginapan
Tidak jauh setelah melewati adventure area kita akan melihat sebelah kiri jalanan menuju Tanakita. Tanakita telah memiliki fasilitas bernama Villa Merah yang merupakan camping area dengan kapasitas maksimum 30 orang yang dilengkapi dengan villa (rumah panggung) yang difungsikan sebagai ruang pertemuan dan sudah dapat digunakan sejak Febuari 2013.

Ruang Villa Merah buat pertemuan atau meeting
Terdapat 2 ruang pertemuan dengan kapasitas 30 orang dan 15 orang. Ruang pertemuan dilengkapi pula dengan peralatan presentasi seperti, white board, flip chart, LCD projector dan layarnya. Jadi para peserta tetap dapat melakukan pertemuan seperti layaknya di hotel, sembari menikmati alam dan layanan TanaKita Five Stars Camping. Harga per orang sekitar Rp 450.000,-

TanaKita menawarkan beberapa paket pilihan. “Mau mendirikan tenda sendiri, boleh. Mau kemping dengan nyaman seperti di hotel, kami juga siap. Satu kabin dengan tempat tidur paling nyaman sedunia,” begitu promosi Setyo. Kamar mandi dengan air panas, dapur, juga ada.

Untuk kegiatan selama di situ, ada treking, jalan ke air terjun, mengitari danau dengan perahu karet, ke desa untuk melihat kebun dan memerah susu sapi penduduk. Menginap di desa pun, boleh. “Nantinya juga bakal ada program bersepeda dan tubing (meluncur di sungai berbatu dengan ban dalam mobil).” 

Biaya untuk semua fasilitas itu Rp 450 ribu per orang, per malam. Kecuali anak-anak di bawah 4 tahun bebas biaya. Harga itu sudah termasuk paket adventure, 3 kali makan, gratis kopi, teh, air putih, serta makanan tradisional. “Kalau mau barbeque, juga kami siapkan tempatnya.”

Wisna Danau
Selain itu, dekat di area Danau terdapat Wisma Danau. Terbagi dua dan cukup untuk menampung sekitar 150 orang. Fasilitas yang ditawarkan terbilang sederhana dan sesuai permintaan. Mau pake kasur bisa, mau pakai sleeping bag juga bisa. Terdapat bale-bale untuk nongkrong sembari ngopi bersama-sama.

Friday, 28 June 2013

GREEN CANYON, PETUALANGAN SEGAR DAN MEMIKAT


Green Canyon tak boleh dilewatkan ketika berkunjung ke Kawasan Pangandaran. Tempat wisata yang terletak di Desa Kertayasa, Ciamis, Jawa Barat ini memiliki daya pikat tersendiri buat para wisatan lokal maupun mancanegara. Terletak sekitar 31 Km dari Pangandaran.

Bagi yang tidak takut ketinggian silahkan loncat 
Nama Green Canyon dikenalkan oleh wisatawan dari Perancis. Warna air sungai yang kehijauan menjadi alasan mengapa tempat yang dipercaya oleh sebagian orang memiliki kekuatan magis ini disebut dengan “Green Canyon” - yang sebelumnya dikenal dengan sebutan Cukang Taneuh yang berarti Jembatan Tanah. Jembatan ini dengan lebar 3 meter dan panjang mencapai 40 meter yang menghubungkan antara Desa Kertayasa dan Desa Batukaras.


Pemandangan yang indah

Biasanya yang menjadi tujuan wisatawan adalah terowongan yang menyerupai gua yang berada di bawah jembatan tanah yang dikenal sebagai Gua Green Canyon. Untuk sampai ke Gua tersebut, kita harus menyusuri sungai Cijulang dengan perahu kecil yang disebut Ketinting. Perahu ini untuk 5-6 penumpang (tanpa terkecuali anak atau bayi dihitung 1 orang) dengan sewa Rp 125 per perahu. Jarak tempuhnya dari dermaga Ciseureuh menuju Gua sekitar 30 menit.


Wisatawan menaiki perahu Ketinting

Selama dalam perjalanan, kita dapat menikmati pemandangan tebing bukit yang ditumbungi pohon yang rindang dan hijau. Mata kita terasa sejuk, begitu pula dengan airnya yang berwarna hijau.


Titik awal untuk berenang

Sesampainya di bebatuan yang berbentuk layaknya mulut gua ini kita bisa menikmati segarnya air Sungai Cijulang ini. Diharapkan untuk menjaga keselamatan - terutama bagi yang tidak bisa berenang, menggunakan baju pelampung. Sensasi kualitas airnya dapat kita rasakan bersama, sehingga rasanya ingin selalu berenang.

Loncat merupakan sensasi bagi yang suka berenang
Sebagai catatan, di tempat ini kita diharuskan membayar lagi ke pembawa Ketinting untuk berenang dengan hitungan setengah jam Rp 100 ribu. Karena ini merupakan kesepakatan antara pihak perahu dan kita, sebenarnya bisa diatur untuk fleksibiltas waktunya.



Sebelum naik batu harus menyeberang dulu
Di sini, bagi yang suka loncat ke air bisa menaiki batu yang cukup besar. Tapi bagi yang takut dengan ketinggian tak usah memberanikan diri.


Tempat pemberhentian akhir perahu Ketinting
Sebagai catatan, sebaiknya kalau mau ke Green Canyon di musim kemarau karena airnya akan terlihat indah dibanding di musim hujan. Bila tak beruntung dan hujan, maka airnya akan berubah dari kehijauan menjadi merah tanah atau “butek”. Selain itu, untuk penginapan agar banyak pilihan terutama yang memperhatikan budget sebaiknya di daerah Pangandaran saja.


Gaya sebelum berenang

Tim yang kompak
Gaya di atas perahu Ketinting
Dermaga
Tim saling yang saling membahu 
Sebelum berjibaku melawan arus